Perkembangan Valorant di Indonesia, Sulit Karena Exclusive!
Felixbridicthus Haulussy, 29 Juli 2024
GameGAMEFINITY, Jakarta –Valorant, game first-person shooter (FPS) buatan Riot Games, telah meraih popularitas yang luar biasa di seluruh dunia sejak dirilis pada Juni 2020. Namun, di Indonesia, game ini belum sebesar itu dibandingkan dengan game FPS lainnya seperti Counter-Strike: Global Offensive (CS:GO) atau PUBG atau mungkin Point Blank.
Setelah bertanya kepada salah satu mantan penjoki Valorant, ada beberapa alasan yang bisa menjelaskan mengapa game ini belum mampu mencapai puncak popularitasnya di tanah air. Berikut alasannya dan simak baik-baik ya!

1. Kurangnya Event Organizer yang Mendukung
Salah satu faktor utama adalah kurangnya event organizer yang secara khusus mendukung scene Valorant di Indonesia. Dibandingkan dengan game-game lain yang sudah mapan, penyelenggara acara untuk game ini masih sangat terbatas. Padahal, event organizer memainkan peran penting dalam mengadakan turnamen dan acara-acara yang dapat meningkatkan popularitas suatu game.
Baca juga:
2. Tim Esports Indonesia Tidak Banyak Memiliki Divisi Valorant
Tim esports di Indonesia juga berkontribusi pada kurangnya eksposur game FPS satu ini. Banyak tim esports besar di Indonesia yang tidak memiliki divisi Valorant dan lebih memilih untuk fokus pada game yang sudah memiliki basis penggemar yang lebih besar seperti Mobile Legends, PUBG Mobile, dan Free Fire. Akibatnya, kompetisi dan eksposur media menjadi terbatas, mengurangi minat para pemain baru untuk terjun ke dalam game ini.

3. Event Valorant yang Tidak Terlalu Banyak dan Hanya dari Komunitas
Sebagian besar acara dan turnamen Valorant di Indonesia masih berasal dari komunitas, bukan dari penyelenggara profesional. Ini menyebabkan skala acara yang lebih kecil dan kurangnya dukungan sponsor besar. Acara komunitas ini tentu sangat berharga, tetapi tanpa dukungan dan infrastruktur yang lebih besar, sulit bagi game dari Riot ini untuk mencapai tingkat popularitas yang sama dengan game-game lain yang sudah mapan.
4. Riot Sulit Berikan Izin Event Valorant di Luar Official Riot
Riot Games dikenal memiliki kontrol yang ketat terhadap penyelenggaraan event Valorant. Untuk mengadakan turnamen yang diakui secara resmi, penyelenggara harus mendapatkan izin langsung dari Riot, yang prosesnya tidak selalu mudah. Hal ini membatasi jumlah turnamen yang bisa diadakan oleh penyelenggara lokal, yang pada gilirannya membatasi pertumbuhan ekosistem kompetitif di Indonesia.
Meskipun saat ini Valo memang belum sebesar game FPS lainnya di Indonesia, masa depan tetap terbuka lebar. Dengan meningkatnya minat dari komunitas dan upaya kolaboratif dari penyelenggara acara, tim esports, dan Riot Games sendiri, Valorant memiliki potensi besar untuk tumbuh dan menjadi salah satu game FPS terpopuler di Indonesia. Mungkin diperlukan waktu dan usaha lebih, tetapi dengan dukungan yang tepat, tidak ada yang tidak mungkin.
Post Terkait:
